“Hooaam…”
Saat ku buka mata ini jam menunjukkan pukul 05.12 WIB. Ku awali pagi ini dengan senyuman khasku. hehe… Tapi saat aku hendak bangun dari tempat tidur, aku dikejutkan sesuatu. Ada yang aneh.
“Perutku…” tanganku sambil memegang perutku.
“Aku hamil?” serasa tidak percaya.
Pikiranku mulai dipenuhi pertanyaan, kenapa aku bisa hamil?, apakah aku sudah menikah?, kapan aku menikah?, lalu dengan siapa aku menikah? kenapa aku tidak ingat?, apa aku mengalami amnesia?.
5 menit pun berlalu.
Dan aku mulai bangun dari tempat tidur. Aku ingin menanyakan pada orangtuaku, siapa laki-laki yang sudi menikahiku?.
“Pak.. bu…”
Ah, syukur ada bapakku.
“Pak, suamiku dimana?”
“Tuh didepan sama adikmu.”
Aku mulai berjalan cepat. Pikiranku pun terus dipenuhi pertanyaan, siapakah laki-laki yang sudi menjadi suamiku?.
“Ning, suamiku mana?”
“Tuh diwarung depan.”
Aduuh, kenapa susah sekali ketemu dengan laki-laki yang sudi menjadi suamiku?. Rasa penasaran ini membuat kakiku berjalan dengan kecepatan penuh.
“Akhirnya… itu dia” ku lihat dia dari belakang.
Tiba-tiba saja ada dik Rizal, anak tetanggaku. Umurnya baru 2 tahun.
“Rizal, lagi main apa?”, aku menghampirinya.
“Rizal sudah makan?”
“Dah…”
“Sudah, lauknya apa?” sambil tersenyum.
“Wah…” artinya buah, bicaranya kurang lancar maklum usianya masih 2 tahun.
Saat aku mulai asyik bermain dengan Rizal, tiba-tiba aku ingat sesuatu.
“Suamiku…”
Aku tersadar dan mulai berjalan menghampiri laki-laki yang sudi menjadi suamiku.
Sampailah aku dibelakang laki-laki itu. Dan saat aku mau menepuk pundaknya, tiba-tiba saja muncul suara.
“Pujii…” suaranya melengking keras.
Siapa ya yang panggil aku?, sepertinya aku kenal suara melengking itu.
“Pujii…” suara itu memanggil lagi.
Aku masih berfikir, siapa ya? sepertinya aku kenal suara itu.
Aku mulai tidak menghiraukan suara itu, lalu aku mulai menepuk pundak laki-laki itu. Belum sempat melihat wajahnya, tiba-tiba suara itu terdengar lagi.
“Pujii…, kamu subuh nggak, sudh siang…”
Aku mulai ingat siapa pemilik suara melengking itu.
“Ibu…” setengah sadar.
“Astaghfirullah, itu suara ibuku…”
Mataku mulai membuka, dan ternyata semua itu hanya mimpi.
“Alhamdulillah… cuma mimpi” sambil memegang perutku.
“Pujii… sudah jam 6, mau jadi orang kafir kamu?” kali ini suaranya lebih melengking 5x, hehe…
“Gak mauu…” kujawab juga dengan suara melengking keras.
To be contiuned…